Gundah khawatir jadi gemetar
Rinduku hancur lebur sia-sia
Asaku mati
Tiba-tiba mataku basah
Ada kelu yang dirasa
Seringkali , kesekian kali
Peduli apa dengan cerca dan hina yang seringkali dilontarkan mereka
Kalau dibilang bodoh, aku memang bodoh
Kalau dibilang gila, aku memang sudah gila
Lantas, jika aku menanggapi cercanya apa aku akan menjadi pintar atau sekedar sembuh dari gila ?
Tidak kan ?
Sungguh, bukan mauku menahan rasa yang belum juga ada titik tamatnya
Nestapa sudah seringkali ada didepan dada,
Menemani langkah yang tak tau harus kemana,
Menghentikan sejenak karena dahaga asa yang dirasa,
Kemudian memacu deru rindu untuk temu..
Dan untuk kali ini, aku hanya akan menyeka tangis
Menghela napas panjang
Memejamkan mata seperlunya
Untuk kembali meyakini , pelukmu adalah sebaik-baiknya rumah yang seringkali memaksaku untuk berkata "Aku ingin pulang" .
(Ditulis setelah membaca pesan singkat berisi keluhanmu tentang rasaku yang membuatmu risih)
Selasa, 24 Desember 2013
Kamis, 19 Desember 2013
Si Berewok Selat Sunda
Lagi-lagi buai ingatannya dipaksa waktu kembali memutar memori klasik nan berrsejarah, kiamat kecil yang menghujam relung, menyakitkan, memekikkan rasa.
Sekujurnya tiba-tiba kaku
Hatinya terasa kelu
Pendengarannya senyap
Bibirnya sulit berucap
Pandangnya remang
Dadanya sesak dibanjiri bimbang
Dia mati ? Tidak ! DIA BELUM MATI !!!
Meskipun kaku , tubuhnya masih mampu jadi perasa
Meskipun kelu , hatinya masih peka akan perih luka
Meskipun senyap , pendengarnya masih mampu diusik suara
Meskipun sulit berucap , bibirnya masih mampu merintihkan iba
Meskipun remang , pandangnya masih mampu mengintip semesta
Meskipun penuh bimbang , hatinya tetap kukuh ingin menghujat selat sundaSelat sunda ? Bukan selat sunda .
Itu hanya pijakan, dimana krakatau berdiri tegak mengangkat dagunya yang seringkali dihiasi berewok berwujud lava panas.
Menyeramkan sekali .
Tepat 130 tahun yang lalu , Selat Sunda yang kini membuai mata dulunya bak neraka.
Gagahnya krarakatau yang semula menakjubkan sekejap beralih menakutkan.
Tak hanya meletus, ia meledakkan sosoknya sendiri menjadi berkeping-keping tak karuan.
Samudera Hindia , pun Sri Lanka sampai Australia , semua mendengar riuh gemuruh auman sang Krakatau .
Tsunami , lahar panas , abu vulkanik , awan panas , gempa dahsyat , mana ada yang indah ?
Sebab keganasannya , ada duka yang tak pernah lupa
Ada lara yang tanpa jeda
Ada ayah dan bundanya yang harus diregang nyawa
Ada adik-adiknya yang harus menjadi papa
Manakala ia yang didamba harus mengembara
Meski jiwa rasa nestapa.
Kini, manakala ia kembali ke pelukan Ibu negeri
Diam-diam matanya basah.
Kelopaknya kuwalahan menampung linangan.
Hatinya tak mampu menaksir arti ,
Antara getir mengisahkan masalalu atau pukauan rindu pada kekayaan Pertiwi.
Yang dulu pernah menjadi paling menakutkan
Telah kembali lebih menakjubkan , Anak Krakatau.
Decak kagum nampak dari bibirnya yg masih merona meskipun usianya telah renta
Tak hanya indah,
Anak krakatau bak surga dunia
Gugusan pulau-pulau memanjakan mata
Sebesi, Panjang, Rakata, Sertung,
Susunan manik-manik jingga menghiasi hamparan Selat Sunda penggugah pukau..
Senja bertengger , menanti malam yang semakin meninggi dari balik punggung Anak Krakatau
Siapa duga ada ribuan nyawa yang pernah regang diantara anggun eloknya
Kini siapapun boleh bangga , Sang Maha Segalanya memberi cipta bagi bangsa
Berupa harta yang tak bernilai jumlahnya
Ia mengaisi sisa-sisa kesedihan sembari menabur syukur tanpa tepi..
Dan segala yang sendu pilu memang tak pernah luput dari luka masalalu..
Sekujurnya tiba-tiba kaku
Hatinya terasa kelu
Pendengarannya senyap
Bibirnya sulit berucap
Pandangnya remang
Dadanya sesak dibanjiri bimbang
Dia mati ? Tidak ! DIA BELUM MATI !!!
Meskipun kaku , tubuhnya masih mampu jadi perasa
Meskipun kelu , hatinya masih peka akan perih luka
Meskipun senyap , pendengarnya masih mampu diusik suara
Meskipun sulit berucap , bibirnya masih mampu merintihkan iba
Meskipun remang , pandangnya masih mampu mengintip semesta
Meskipun penuh bimbang , hatinya tetap kukuh ingin menghujat selat sundaSelat sunda ? Bukan selat sunda .
Itu hanya pijakan, dimana krakatau berdiri tegak mengangkat dagunya yang seringkali dihiasi berewok berwujud lava panas.
Menyeramkan sekali .
Tepat 130 tahun yang lalu , Selat Sunda yang kini membuai mata dulunya bak neraka.
Gagahnya krarakatau yang semula menakjubkan sekejap beralih menakutkan.
Tak hanya meletus, ia meledakkan sosoknya sendiri menjadi berkeping-keping tak karuan.
Samudera Hindia , pun Sri Lanka sampai Australia , semua mendengar riuh gemuruh auman sang Krakatau .
Tsunami , lahar panas , abu vulkanik , awan panas , gempa dahsyat , mana ada yang indah ?
Sebab keganasannya , ada duka yang tak pernah lupa
Ada lara yang tanpa jeda
Ada ayah dan bundanya yang harus diregang nyawa
Ada adik-adiknya yang harus menjadi papa
Manakala ia yang didamba harus mengembara
Meski jiwa rasa nestapa.
Kini, manakala ia kembali ke pelukan Ibu negeri
Diam-diam matanya basah.
Kelopaknya kuwalahan menampung linangan.
Hatinya tak mampu menaksir arti ,
Antara getir mengisahkan masalalu atau pukauan rindu pada kekayaan Pertiwi.
Yang dulu pernah menjadi paling menakutkan
Telah kembali lebih menakjubkan , Anak Krakatau.
Decak kagum nampak dari bibirnya yg masih merona meskipun usianya telah renta
Tak hanya indah,
Anak krakatau bak surga dunia
Gugusan pulau-pulau memanjakan mata
Sebesi, Panjang, Rakata, Sertung,
Susunan manik-manik jingga menghiasi hamparan Selat Sunda penggugah pukau..
Senja bertengger , menanti malam yang semakin meninggi dari balik punggung Anak Krakatau
Siapa duga ada ribuan nyawa yang pernah regang diantara anggun eloknya
Kini siapapun boleh bangga , Sang Maha Segalanya memberi cipta bagi bangsa
Berupa harta yang tak bernilai jumlahnya
Ia mengaisi sisa-sisa kesedihan sembari menabur syukur tanpa tepi..
Dan segala yang sendu pilu memang tak pernah luput dari luka masalalu..
Selasa, 29 Oktober 2013
Surat Cinta (Entah Untuk Siapa) -editingofGBS-
Aku kangen loh sama kamu. Gatau deh kamu bosen apa ga kalo aku bilang itu terus. Terserah kamu mau percaya juga apa ga. Tapi emang aku kangen beneran kok.
Aku takut kalo kamu pergi. Ninggalin aku. Ya aku tau sih aku gabisa apa-apa. Kamu punya perempuan yang lebih baik dari aku yang jelas. Aku udah kalah duluan sebelum mulai ngambil senjata untuk perang.
Aku minta kamu disini aja. Disamping aku. Kayak waktu itu, beberapa bulan yang lalu.
Kamu masih ingat ga? Aku nangis untuk minta kamu stay di samping aku. Jangan tinggalin aku. Karna aku yang lebih butuh kamu daripada dia. Aku yang lebih butuh pertolongan kamu, bukan dia. Ah mungkin kamu ga ingat.
Aku masih ingat. Gimana kita ngabisin malam berdua. Makan mie ayam, makan somay, nonton film bareng di laptop, makan eskrim tiap kamu jemput aku pulang kerja, ngeledekin orang . Semuanya aku ingat. Gatau deh kalo kamu.
Aku masih ingat. Gimana kamu meluk aku kuat banget, sampai aku susah nafas. Aku sebel digituin. Tapi aku ternyata lebih milih digituin daripada ga ketemu-ketemu kamu.
Aku masih ingat. Gimana sentuhan-sentuhan hebat yang kamu buat hingga aku menggeliat seperti ulat. Aku suka itu. Tapi aku takut bayangmu makin kuat seperti kentut hingga aku menjadi candu akut.
Aku masih ingat. Panggilan kesayangan yang selalu kamu berikan. Pertamanya aku malu dipanggil kayak gitu didepan umum. Tapi ternyata aku lebih milih dipanggil kayak gitu daripada harus ga mendengar suara kamu.
Aku gabisa nulis surat cinta. Soalnya hati aku cintanya bukan berbentuk surat, tapi gada bentuk dan semakin lama semakin menguat. Aku ga cukup buat kenal kamu cuma dua hari, aku butuh waktu selama aku masih bisa melihat mentari.
Hai, aku suka kamu. Sudahkah aku bilang itu? Kalau belum, aku ulangi, AKU SAYANG KAMU sampai mentari pagi tak bersinar lagi.
Dari Aku, yang biasa kamu panggil 'yang'
Rabu, 16 Oktober 2013
Untuk Sosok Setelahku
Untuk sosok baru yang ia pilih ..
Tak ada satupun rasa yang mampu kuungkap sempurna .
Jalanku telah kau tutup dengan indahnya lekukmu , senyum mautmu , anggun ucapanmu .
Ialah berarti beratnya hak untuk membuat dirinya sempurna yang tadinya kujunjung sebagai prinsip ditanganku telah berpindah ke genggaman jemarimu .
Jaga dia , lebih dari aku yang menjaganya .
Bahagiakan dia , lebih dari aku yang membahagiakannya .
Genggam tangannya , lebih erat dari aku yang menggenggamnya .
Rengkuh tubuhnya , lebih hangat dari aku yang merengkuhnya .
Usap rambutnya , peluhnya , airmatanya , lebih lembut dari aku yang mengusapnya .
Dia terlampau istimewa untuk merasakan luka yang membuatnya tak bermakna .
Kali ini, biarkan aku terjatuh dilubang yang memang kugali sendiri, bukan karenamu, pun bukan karenanya.
Aku memang memutuskan untuk tidak menanggalkan rasa
Aku bahagia seperti ini, sesepele mendengar tuturnya "Aku baik-baik saja kok" :)
Untuk yang mengira bahwa aku tak lagi mencintainya ..
Jujur kuungkap kali ini
Masih banyak yang ingin ku raih ,
masih banyak yang belum kuselesaikan ,
masih banyak yang ingin ku gapai , serumit rindu yang seringkali diabaikan , tapi terus saja beranak pinak .
Masih banyak yang ingin kutulis , tentang senja , tentang gerimis , tentang laut dan ombak , tentang semangkuk miayam , semuanya .. Tentang aku dan dia .
Maaf , memang hanya ini yang mampu kulakukan untuk mengurangi segala rasa yang memenuhi isi segumpal daging sensitif yang seringkali justru menjadi masinis pergerakan lakuku, ucapanku.
Wanita istimewa , kamu tentu tidak keberatan bukan tatkala ia tetap dijadikan tema ketika tangan dan imajinasiku berlarian ?
Dengar aku sekali lagi , cukup dengan menjadi yang paling memahami diantara sosok sempurna yang hanya mampu mengerti .
Kuulangi .
Dia terlampau istimewa untuk merasakan luka yang membuatnya tak bermakna .
Tak ada satupun rasa yang mampu kuungkap sempurna .
Jalanku telah kau tutup dengan indahnya lekukmu , senyum mautmu , anggun ucapanmu .
Ialah berarti beratnya hak untuk membuat dirinya sempurna yang tadinya kujunjung sebagai prinsip ditanganku telah berpindah ke genggaman jemarimu .
Jaga dia , lebih dari aku yang menjaganya .
Bahagiakan dia , lebih dari aku yang membahagiakannya .
Genggam tangannya , lebih erat dari aku yang menggenggamnya .
Rengkuh tubuhnya , lebih hangat dari aku yang merengkuhnya .
Usap rambutnya , peluhnya , airmatanya , lebih lembut dari aku yang mengusapnya .
Dia terlampau istimewa untuk merasakan luka yang membuatnya tak bermakna .
Kali ini, biarkan aku terjatuh dilubang yang memang kugali sendiri, bukan karenamu, pun bukan karenanya.
Aku memang memutuskan untuk tidak menanggalkan rasa
Aku bahagia seperti ini, sesepele mendengar tuturnya "Aku baik-baik saja kok" :)
Untuk yang mengira bahwa aku tak lagi mencintainya ..
Jujur kuungkap kali ini
Masih banyak yang ingin ku raih ,
masih banyak yang belum kuselesaikan ,
masih banyak yang ingin ku gapai , serumit rindu yang seringkali diabaikan , tapi terus saja beranak pinak .
Masih banyak yang ingin kutulis , tentang senja , tentang gerimis , tentang laut dan ombak , tentang semangkuk miayam , semuanya .. Tentang aku dan dia .
Maaf , memang hanya ini yang mampu kulakukan untuk mengurangi segala rasa yang memenuhi isi segumpal daging sensitif yang seringkali justru menjadi masinis pergerakan lakuku, ucapanku.
Wanita istimewa , kamu tentu tidak keberatan bukan tatkala ia tetap dijadikan tema ketika tangan dan imajinasiku berlarian ?
Dengar aku sekali lagi , cukup dengan menjadi yang paling memahami diantara sosok sempurna yang hanya mampu mengerti .
Kuulangi .
Dia terlampau istimewa untuk merasakan luka yang membuatnya tak bermakna .
Jumat, 11 Oktober 2013
Selamat Pagi, Pemuda
Selamat pagi pemuda yang entah kapan sadar akan rasa ini .
Sebulan yang lalu indah sosokmu masih kumiliki .
Senyum yang melelehkan , suara yang menghanyutkan , pandangan yang meneduhkan , rengkuhan yang menenangkan , genggaman yang meyakinkan .
Ahh .. mungkin sekarang wanita itu sedang menikmati itu semua .
Aku iri ? Yang benar saja , bahkan untuk sekedar cemburu pun seharusnya aku tak berhak .
Entah ini benci atau rindu yang tak mendapatkan balas rasa .
Yang jelas tak sedikitpun aku mampu menahannya .
Biarkan aku tenggelam pada lubang rasa yang memang kugali sendiri , bukan karenanya .
Sebulan yang lalu indah sosokmu masih kumiliki .
Senyum yang melelehkan , suara yang menghanyutkan , pandangan yang meneduhkan , rengkuhan yang menenangkan , genggaman yang meyakinkan .
Ahh .. mungkin sekarang wanita itu sedang menikmati itu semua .
Aku iri ? Yang benar saja , bahkan untuk sekedar cemburu pun seharusnya aku tak berhak .
Entah ini benci atau rindu yang tak mendapatkan balas rasa .
Yang jelas tak sedikitpun aku mampu menahannya .
Biarkan aku tenggelam pada lubang rasa yang memang kugali sendiri , bukan karenanya .
Kamis, 10 Oktober 2013
Tulisan Ngelantur Pagi Ini
Apa lagi yang dipikirkan !
Apa lagi yang ditangisi !
Tak cukup semalaman memeluk tubuhnya yang mulai renta berniat melepaskan penat ?
Kamu sendiri kan yang menilai ?
Tubuhnya memang mulai renta ,
tapi apa pernah kamu melihatnya membiarkan air mata menghapus kecerianmu , kakakmu ,dan adik kecilmu ?Kenapa kamu malah menangis ?
Kamu belum selesai menulis , kita baru saja memulainya .
Baru beberapa kata saja .
Aku sendiri tak habis pikir .
Apalagi beliau yang sejatinya memang patut diberi mahkota dan selempang bertahta "Wanita Tertegar" layaknya Miss Word yang baru beberapa saat menjadi trending topic di pertelevisian Indonesia belakangan terakhir ?
Tapi itu masih terlalu rendah, beliau pasti tak akan rela membiarkan seluruh mata memandang auratnya tanpa syarat dan batas.
Ah, omonganmu ngelantur nak.
Yang jelas beliau akan berada dipuncak popularitas jika dihidupmu kau buat tingkatan-tingkatan layaknya pemenang Moto GP seperti yang sering disaksikan adik kecilmu sampai ia memiring-miringkan tubuhnya mengikuti gaya pembalap internasional itu.
Hehehe sering juga kan kamu mendengar ia berceloteh ringan "Mbak-mbak itu ya yang namanya Mas Oci".. Kemudian kamu hanya tersenyum kemudian berlalu meninggalkannya yang asik dengan tontonannya.
Kembali lagi, dengan tangisan semalam tadi.
Mungkin jika beliau melihat tetesan airmatamu itu ia akan menyesal, bahkan merasa paling menyesal karena telah gagal mencetak seorang manusia tegar seperti sosoknya sendiri.
"Seperti apa nak masalah yang membuatmu seterpuruk itu ?"
Kamu bodoh, kamu cengeng, kamu berlebihan
!"Bukankah ini tak lebih pelik dari seorang tukang parkir yang kehilangan mobil mewah karena memang sudah diambil oleh pemiliknya ? Tak perlu ditangisi. Memang sudah seharusnya begitu. "
"Apa sebanding dengan bergulung-gulung ombak yang sudah seringkali menghantam dinding tembok reot milik kita ini?"
"Tegar sayang, tegar, seharusnya kamu sudah terbiasa. Ini sama sekali bukan apa-apa bagimu"
Dan apa yang kamu lakukan untuknya? kamu hanya tetap terlelap dalam tempat paling nyaman didunia. Dalam peluknya. Tanpa menjawab apalagi bertindak.
Bahkan mungkin dalam bunga tidurmu, bukan beliau yang menjadi peran utama.
Justru manusia itu,
manusia yang membuatmu berhasil menanggalkan kewajibannya pagi ini hanya untuk membiarkan tangan dan imajinasinya berlarian diatas keyboard demi omongan ngelantur tak bermakna ini.
Semoga, manusia itu tak membacanya
Padahal untuk sampai disini saja, tadi pagi tepatnya, kamu pergi dengan meninggalkan setumpuk pekerjaan rumah dan membiarkan sarapan pagi diatas meja tanpa menyentuhnya sedikitpun, bukan ?
Apa pernah kamu menyaksikannya secara live bagaimana beliau bangun pagi-pagi buta hanya untuk menghidangkan sepiring sarapan pagi dan segelas susu hangat itu?
Tidak kan? Jelas saja.
Pasti kamu sedang terlelap memimpikan manusiamu itu.
Padahal itu semua untukmu.
Terus saja membanting pintu jika keinginanmu tak terpenuhi.
Mana mau tau kamu manakala hatinya ikut terbanting bersamaan dengan itu ?
Rasakan saja sendiri, pasti temanmu menulis sekarang ini adalah jutaan cacing penghuni perut yang mulai berorasi meminta sepiring nasi agar segera diturunkan untuk mereka.
Sudahlah !
Pagi Ini Masih Malam Itu
Mentari mengintip ,
mencemooh pagiku yang masih mengingat malam itu
Saat rinduku benar2 diujung jalan buntu ,
Entah harus apa .
Rintik pun semakin jatuh , seakan memaksa , aku ingin kamu .
Dan ragumu berbanding lurus dengan nantianku .
Barangkali kamu takut , aku tak seindah sosoknya .
Ohh , ternyata aku yang ragu
aku yang takut
aku yang cemas .
Berlebihan !
Dramatis !
Nyatanya , kamu benar-benar datang seorang diri .
Uluran tanganmu seolah berkata , aku juga rindu .
Nyamannya pelukmu seolah berbisik , aku juga sayang .
Teduh pandangmu seolah meyakinkan , kamu lebih baik .
Itu cerita dulu , belum berujung memang .
Tapi hanya kisah klasik .
Hanya untuk diingat , tidak untuk dirasa lagi .
Apa maknanya sekarang ?
Hanya setitik bintang disiang yang terik,
Hanya segores pelangi dimalam yang pekat ,
Tak bermakna bukan ?
Asaku cuma satu ,
tetap menyediakan mata, telinga, dan rasa
saat dia , dia , dan mereka membuatmu tertunduk.
Beri aku satu celah lagi untuk tetap ada di setiap 12 April mu .
Siapa Anny ?
Punya hobby nulis , tapi bukan dibuku , lebih sering nulis pesan di handphone terus di send ke do'i meskipun
Mayoritas orang menilai tulisan-tulisanku adalah kegalauanku. Memangnya cuma orang galau yang boleh nulis ? Ya nggak mungkir juga sih kalo imajinasiku seringkali lebih lincah ketika aku galau. Yah, mungkin Allah SWT nyipatain rasa "galau" itu untuk dijadikan "power" buat aku nulis kali ya ? :)
Bermula dari omongan-omongan do'i yang sering menanggapi karya ku dengan satu kata yang udah familiar banget di era ini , satu kata yang sering disebut-sebut sama semua umur semua kalangan , dari mulai anak-anak sampe nenek-nenek , "LEBAY" , seperti ada
Kontak : anijamilr@gmail.com
Langganan:
Komentar (Atom)
