Lagi-lagi buai ingatannya dipaksa waktu kembali memutar memori klasik nan berrsejarah, kiamat kecil yang menghujam relung, menyakitkan, memekikkan rasa.
Sekujurnya tiba-tiba kaku
Hatinya terasa kelu
Pendengarannya senyap
Bibirnya sulit berucap
Pandangnya remang
Dadanya sesak dibanjiri bimbang
Dia mati ? Tidak ! DIA BELUM MATI !!!
Meskipun kaku , tubuhnya masih mampu jadi perasa
Meskipun kelu , hatinya masih peka akan perih luka
Meskipun senyap , pendengarnya masih mampu diusik suara
Meskipun sulit berucap , bibirnya masih mampu merintihkan iba
Meskipun remang , pandangnya masih mampu mengintip semesta
Meskipun penuh bimbang , hatinya tetap kukuh ingin menghujat selat sundaSelat sunda ? Bukan selat sunda .
Itu hanya pijakan, dimana krakatau berdiri tegak mengangkat dagunya yang seringkali dihiasi berewok berwujud lava panas.
Menyeramkan sekali .
Tepat 130 tahun yang lalu , Selat Sunda yang kini membuai mata dulunya bak neraka.
Gagahnya krarakatau yang semula menakjubkan sekejap beralih menakutkan.
Tak hanya meletus, ia meledakkan sosoknya sendiri menjadi berkeping-keping tak karuan.
Samudera Hindia , pun Sri Lanka sampai Australia , semua mendengar riuh gemuruh auman sang Krakatau .
Tsunami , lahar panas , abu vulkanik , awan panas , gempa dahsyat , mana ada yang indah ?
Sebab keganasannya , ada duka yang tak pernah lupa
Ada lara yang tanpa jeda
Ada ayah dan bundanya yang harus diregang nyawa
Ada adik-adiknya yang harus menjadi papa
Manakala ia yang didamba harus mengembara
Meski jiwa rasa nestapa.
Kini, manakala ia kembali ke pelukan Ibu negeri
Diam-diam matanya basah.
Kelopaknya kuwalahan menampung linangan.
Hatinya tak mampu menaksir arti ,
Antara getir mengisahkan masalalu atau pukauan rindu pada kekayaan Pertiwi.
Yang dulu pernah menjadi paling menakutkan
Telah kembali lebih menakjubkan , Anak Krakatau.
Decak kagum nampak dari bibirnya yg masih merona meskipun usianya telah renta
Tak hanya indah,
Anak krakatau bak surga dunia
Gugusan pulau-pulau memanjakan mata
Sebesi, Panjang, Rakata, Sertung,
Susunan manik-manik jingga menghiasi hamparan Selat Sunda penggugah pukau..
Senja bertengger , menanti malam yang semakin meninggi dari balik punggung Anak Krakatau
Siapa duga ada ribuan nyawa yang pernah regang diantara anggun eloknya
Kini siapapun boleh bangga , Sang Maha Segalanya memberi cipta bagi bangsa
Berupa harta yang tak bernilai jumlahnya
Ia mengaisi sisa-sisa kesedihan sembari menabur syukur tanpa tepi..
Dan segala yang sendu pilu memang tak pernah luput dari luka masalalu..
Sekujurnya tiba-tiba kaku
Hatinya terasa kelu
Pendengarannya senyap
Bibirnya sulit berucap
Pandangnya remang
Dadanya sesak dibanjiri bimbang
Dia mati ? Tidak ! DIA BELUM MATI !!!
Meskipun kaku , tubuhnya masih mampu jadi perasa
Meskipun kelu , hatinya masih peka akan perih luka
Meskipun senyap , pendengarnya masih mampu diusik suara
Meskipun sulit berucap , bibirnya masih mampu merintihkan iba
Meskipun remang , pandangnya masih mampu mengintip semesta
Meskipun penuh bimbang , hatinya tetap kukuh ingin menghujat selat sundaSelat sunda ? Bukan selat sunda .
Itu hanya pijakan, dimana krakatau berdiri tegak mengangkat dagunya yang seringkali dihiasi berewok berwujud lava panas.
Menyeramkan sekali .
Tepat 130 tahun yang lalu , Selat Sunda yang kini membuai mata dulunya bak neraka.
Gagahnya krarakatau yang semula menakjubkan sekejap beralih menakutkan.
Tak hanya meletus, ia meledakkan sosoknya sendiri menjadi berkeping-keping tak karuan.
Samudera Hindia , pun Sri Lanka sampai Australia , semua mendengar riuh gemuruh auman sang Krakatau .
Tsunami , lahar panas , abu vulkanik , awan panas , gempa dahsyat , mana ada yang indah ?
Sebab keganasannya , ada duka yang tak pernah lupa
Ada lara yang tanpa jeda
Ada ayah dan bundanya yang harus diregang nyawa
Ada adik-adiknya yang harus menjadi papa
Manakala ia yang didamba harus mengembara
Meski jiwa rasa nestapa.
Kini, manakala ia kembali ke pelukan Ibu negeri
Diam-diam matanya basah.
Kelopaknya kuwalahan menampung linangan.
Hatinya tak mampu menaksir arti ,
Antara getir mengisahkan masalalu atau pukauan rindu pada kekayaan Pertiwi.
Yang dulu pernah menjadi paling menakutkan
Telah kembali lebih menakjubkan , Anak Krakatau.
Decak kagum nampak dari bibirnya yg masih merona meskipun usianya telah renta
Tak hanya indah,
Anak krakatau bak surga dunia
Gugusan pulau-pulau memanjakan mata
Sebesi, Panjang, Rakata, Sertung,
Susunan manik-manik jingga menghiasi hamparan Selat Sunda penggugah pukau..
Senja bertengger , menanti malam yang semakin meninggi dari balik punggung Anak Krakatau
Siapa duga ada ribuan nyawa yang pernah regang diantara anggun eloknya
Kini siapapun boleh bangga , Sang Maha Segalanya memberi cipta bagi bangsa
Berupa harta yang tak bernilai jumlahnya
Ia mengaisi sisa-sisa kesedihan sembari menabur syukur tanpa tepi..
Dan segala yang sendu pilu memang tak pernah luput dari luka masalalu..
0 komentar:
Posting Komentar