Andai dapat kutumpahkan kalutku malam ini didadamu, meski kutau kau lebih dulu terlelap, entah bermimpi tentang apa, tentang riuh kicauan burung-burung kesayanganmu, atau duduk wibawa memetik citamu, atau bahkan suka cita kembali ke bidadari kesayanganmu..
Sungguh, kalutku semalaman ini benar-benar melelahkan. Sendu rindu terbaur bersama haru biru karena cemburu..
Aku terisak oleh hal yang sama sekali bukan hakku.. Ingin rasanya menyalahkan waktu.. Mengapa aku tak lebih dulu mengenalmu.. Laki-laki yang telah mampu meyakinkan langkahku untuk dapat berpijak setara dengan tumbuhnya bunga keabadian.. Laki-laki yang mendekap hangat kala gigil menelusup persendian.. Laki-laki yang mengulurkan tangan, mengentaskan tubuh dari kelamnya masalalu..
Seringkali pertanyaan sama muncul dari mulut-mulut yang berbeda.. "Sebenarnya kalian itu apa?" Pertanyaan yang paling menyebalkan, kalut rasanya kepala, dan aku bisa apa? Tersenyum pahit menggeleng pelan "Entahlah"..
Beberapa waktu, jika gemasku benar-benar ada dititik ubun-ubun, kubaca satu-persatu tulisan jemarimu.. Tak jarang kutemukan betapa kamu dengan tanpa segan mengungkapkan rasa kepada wanitamu.. Ah seandainya itu aku, seandainya namaku yang kau tulis, seandainya, seandainya, seandainya..
Lelah terkadang, menikmati nyaman rengkuh tanpa tau apa makna dibalik lenganmu..
Tapi sungguh, hati ini lebih tak rela melepaskan genggam tanganmu..
Aku sering membayangkan, kita menikmati mentari pagi dari jendela yang sama, seperti beberapa minggu silam..
Maaf mas, rewelku sering merepotkanmu..
Aku sayang kamu.
Tangerang, 23 April 2015
0 komentar:
Posting Komentar