Jumat, 10 April 2015

Sore, di Terminal Giwangan

Aku menghela napas. Menjejakkan kaki turun dari bus antar provinsi, memasuki Terminal. Aku masih ingat betul, bagaimana khawatirmu karena semalaman tak kuberi kabar, hingga membuatmu menunggu hampir 6 jam lamanya ditempat ini. Lalu tanpa lagi memiliki rasa malu, kukecup punggung tanganmu. Dadaku berdebar cepat saat itu. Ah, akhirnya aku tiba dikotamu. Seperti sepasang perindu yang dimanjakan perjumpaan, aku benar-benar kalap menutupi kegembiraan.
Sore ini, tepat empat hari setelah momen itu, kita kembali duduk berdampingan di Terminal yang sama. Dengan kepala yang disesaki alasan-alasan pembenaran agar tidak menyegerakan pulang.
Menyebalkan sekali. Waktu berhenti saat menanti. Lantas berlari kencang saat sua menghampiri.
Empat hari menjadi sedemikian cepat bagi kita yang menuntaskan rindu. Ingin rasanya kubunuh waktu dari perputaran jam, agar bisa membingkai kenangan dengan sebaik-baiknya ingatan. Padahal untuk bisa sampai kekotamu, butuh waktu yang cukup lama untuk menentukan jadwal keberangkatan.
"Sebentar lagi, Dek" ucapmu seraya memperhatikan arloji yang nyaris tak pernah lepas dari pergelangan tangan kirimu. Aku hanya diam tak menanggapi. Kamu mengulang ucapan dan tindakan yang sama hampir dua menit sekali. Aku meletakkan makanan. Laparku tiba-tiba hilang. Kuteguk segelas minuman kesukaanku, bukan lemon tea yang kurasa, malah seperti meminum segelas kopi tanpa gula. Kau melihatku lekat. Entah apa makna tatapanmu itu. Mungkin kau mulai menangkap gurat kesedihan dipelupuk mataku. Dan aku tetap memilih diam menikmati sisa-sisa waktuku didekatmu.
Mas, kalaulah kau tau betapa aku ingin memelukmu erat saat itu. Menumpahkan semua rindu yang masih belum berkurang sama sekali. Menenangkan setiap gelisah resah yang berkecamuk didalam dadaku. Menciptakan lagi satu simpul senyum dengan keyakinan bahwa kita pasti bertemu kembali. Menuntaskan keinginan untuk mengutuhkan perasaan. Tapi waktu tak pernah setia untuk menanti. Menyuruhku berbenah untuk selalu tabah. Menampar kenyataan bahwa dalam setiap kedatangan selalu ada kepulangan.
Maka saat itu, aku benar-benar gagal membendung kesedihan. Dadaku sesak. Tak lama berselang, air mata menitik pelan dari ujung mataku. Kau tetap mencoba tersenyum. Satu lengkung yang selalu membuat aku gagal untuk tidak jatuh cinta. Kubenamkan kepala ditempat yang paling ampuh menenangkan gusar, didadamu -menafikan tatapan sinis orang-orang disekeliling kita-.
Aku selalu menyukai saat tidur dalam dekapmu, maka kadang aku selalu berharap dingin selalu datang mengusik, agar pelukmu tak pernah lepas dari tubuh ini.
Semesta dan rindu pasti bekerja sama untuk menunjukkan jalan padamu agar datang kepadaku atau aku kepadamu (lagi).
Demi setiap depa per depa jarak yang membuat kita jauh, percayalah kamu adalah sepasang lengan yang mendekapku saat aku hampir jatuh.
Aku harus belajar memendam rindu. Menimbun setiap resah yang mengikis mimpi. Hingga kita sama-sama membenci kesepian.
Teruntuk laki-laki yang membuatku betah merebah lelah didadanya, ajari aku kesetiaan senja untuk kembali datang, meski malam kerap menyuruhnya pulang.
Aku sayang kamu.
Jogjakarta - Tangerang
6 April 2015

0 komentar:

Posting Komentar

 
Cenelnel.Com Blogger Template by Ipietoon Blogger Template