Karena nila setitik, rusak susu sebelanga..
Atau, seperti pungguk yang merindukan bulan..
Aku memang cuma setitik nila, meskipun cuma setitik aku tetap nila, nila perusak sebelanga susu yang kau punya..
Aku memang tak lebih dari pungguk, mendamba bulan tanpa berkaca seberapa hina aku sebenarnya..
Bahkan airmata mungkin enggan tertetes dari ujung mata kali ini, entah karena terlalu lelah atau Tuhan memberi harga lebih tinggi atas airmataku dibanding kamu..
Laki-laki pemilik mata teduh,
Laki-laki pemilik senyum aduh,
Laki-laki pemilik peluk hangat,
Laki-laki penyelamat..
Hingga aku seringkali berlebihan menjulukimu jagoan. Tak ada yang salah. Kamu memang jagoan, tapi bukan jagoanku.
Lelahku terjawab.
Penantianku terjawab.
Rinduku terjawab.
Khawatirku terjawab.
Semua pertanyaanku terjawab.
Terjawab dengan jawaban luarbiasa. Jawaban yang sangat bertolak belakang dengan harapku..
Tidak, aku tidak menyalahkanmu atas kita..
Aku yang terlalu mendamba..
Terlalu lena dengan budimu yang memang mengagumkan.. Padahal jelasnya, ada perempuan istimewa pemilik ulung senja yang rona, kamu.
Aku bisa apa setelahnya?
Terduduk memeluk lutut menundukkan kepala..
Enggan rasanya membawa muka ketika kemana-mana. Aku malu.
Malu pada diri sendiri atas rasa yang petaka.
Entah berapa hati yang luka setelah ini.
"Bu, barangkali aku memang belum sempat mencium punggung tanganmu memperkenalkan diri. Aku belum sempat menyebutkan namaku dan silsilah keluargaku. Aku belum sempat menceritakan bagaimana aku memeras keringat sebagai kuli untuk mengejar cita-citaku. Aku belum sempat merendahkan diri siapa aku dibanding perempuan pilihanmu. Tapi aku percaya, semua ibu didunia menginginkan yang terbaik untuk mendampingi putra kesayangannya. Maaf aku pernah tak tau diri bermimpi untuk menjadi perempuan beruntung itu. Maaf aku merusak semuanya. Maaf."
"Untukmu perempuan beruntung, entah harus dengan apa aku berupaya menghapus kesalahanku. Tapi sungguh, aku sama sekali tak menginginkan hati sesamaku terluka sebegininya. Ribuan maaf mungkin akan sia-sia. Tolong bahagiakan dia, sama besar seperti usahanya membahagiakanmu. Ceritakan kepada keturunanmu, kamu beruntung memenangkan hati laki-laki seistimewa ayahnya."
"Untukmu, -laki-laki yang sering memanggilku manja dengan sebutan tante- Terimakasih sudah sempat singgah. Semoga langkahmu tak pernah salah lagi. Maaf sudah masuk kekehidupanmu, tak tau diri mencari celah dihatimu yang lapang namun penuh dengan kebahagiaan."
Aku berusaha untuk tidak sayang kamu lagi.
Tangerang, 13 Juni 2015.
0 komentar:
Posting Komentar