Rabu, 08 Juli 2015

Hati Bima Sakti

Melewati Andromeda yang kutahu. Saat kau putuskan untuk terbang lebih jauh. Meninggalkan Ceres-mu yang meratap. Dan melupakan jalur intan yang pernah sangat kau sukai di cincin Saturnus-ku.

Adakah kulihat awan kumulus menangisi kepergianmu?

Tampaknya, tidak.

Sejak jejak langkahmu hilang bersama titik gugus bintang terakhir yang tenggelam di timur samudra, kenangan tentang dirimu, tentang mimpi penjelajahan galaksi misterius-mu, dan seluruh rangkaian puisi yang kau ciptakan saat malam-malam kau berkunjung ke bulan, sudah lenyap ditelan lubang hitam di utara Biduk, tempat dulunya bintang kesayanganku mempertahankan sisa-sisa kehidupannya.

Bintang-ku telah mati. Awan teduhku tak lagi memedulikan apakah bintang pusat tata surya kita masih bertahta atau tidak. Dia mengembara sesukanya, melawan kehendak putaran ion positif di atas pengaruh gaya gravitasi bumi. Dia berduka dengan caranya, dan tak sempat memerhatikanku. Aku sendiri. benar-benar sendiri.

Apalagi yang bisa kulakukan selain makan es krim di pluto pada siang hari, dan memetik bunga musim panas di merkuri pada sore hari?

Tidak ada.

Aku hanya bersenang-senang sepanjang Vega masih mengamatiku – yang memang sudah menjadi tugasnya. Sebab lukaku adalah darah yang membanjiri Neptunus. Tak ada yang menginginkan aku mengotori warna murni milik Triton itu.

Namun, saat tak ada lagi yang mengawasiku, semua tawa, bahagia, dan ceria pun sirna tanpa bekas. Aku membebaskan jiwaku. Melepaskan pedihku. Dan, aku pun menangis, di balik kawah yang tersembunyi di Demos.

Bima sakti, bima sakti, bentangkan sayapmu. Beri aku dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Izinkan aku turut mengembara bersama Halley. Agar aku tahu berapa juta tahun cahaya yang kubutuhkan untuk sampai ke tempatnya.

Aku merindukannya. Ketika melihat ruang kosong yang dulu ditempatinya – diantara Mars dan Yupiter – aku tak bisa mengelak dari rasa itu. Tak mampu aku merelakan kepergiannya yang tiba-tiba. Seharusnya, dia di sana.
Semestinya, dia masih bersamaku, menyaksikan Venus menebar cinta di galaksimu.

Kau juga, putri asteroid! Kenapa kau tak bisa bertahan? Haruskah aku menyalahkan dua bintang yang tak sengaja berbenturan di atasmu, yang mengguncangkanmu waktu itu?
Padahal, kutahu kau juga membujuk sebuah meteor kecil untuk mengejar kupu-kupu Phoebe. Saat ia melewatimu, kau pun terlontar entah kemana..?

Kini, aku… merasa dingin dan sepi, duduk sendiri di atas puncak gunung di Uranus. Aku menyadari kenapa galaksi ini terasa begitu hampa dan tak bernyawa. Adalah karena… kaulah bima sakti, yang memberi warna kehidupan di dalamnya. Karena kau pergi, galaksi ini jadi muram. Seandainya kau kembali, pasti semesta.. akan cerah lagi.

Sebuah surat cinta dari M. Kamelia dalam Kepada Cinta halaman 81.

Senin, 06 Juli 2015

Tetap Dia Kah?

Aku membuka pintu café dan masuk ke dalamnya sambil mengibaskan tangan yang basah karena hujan. Setelah yakin aku tak mengotori lantai café, aku melebarkan pandangan dan dengan mudah menemukannya. Duduk di kursi dekat jendela, memegang cangkir hitam –yang aku tebak isinya adalah coklat panas- sambil memandangi hujan. Aku menghampirinya.

“Indah?” tanyaku.

Ia memalingkan pandangannya dari jendela, menoleh ke arahku lalu tersenyum. Ia meletakkan gelasnya di meja dan mengangguk.

“Tentu saja,” jawabnya masih sambil mengenakan senyum itu di bibirnya yang delima.

“Baru datang seharusnya kau menyapaku dulu, bukannya langsung bertanya. Nanti orang kira namaku Indah,” rutuknya.

Aku tertawa mendengar protesnya lalu duduk di sofa, berhadapan dengannya.

“Lama mengenalmu, aku masih tak mengerti mengapa kau begitu menyukai hujan,” kataku.

Ia tertawa. Tawanya renyah. Mirip suara gemerisik dedaunan kering di taman tempat biasa aku dan dia duduk saat aku harus menemaninya menulis. Menenangkan.

Katanya, taman yang sepi justru lebih hidup dari warna pelangi. Ia mampu menulis apa saja, asal aku tak mengganggunya dengan banyak pertanyaan. Maka biasanya, jika ia mengajakku ke taman, aku hanya diam saja. Memperhatikannya menulis, atau aku akan sibuk dengan ponselku sendiri. Entah mendengarkan lagu, memotretnya, atau sekadar eksis di dunia maya.

“Kau bukan tak mengerti, mungkin kau tak tertarik untuk mengerti,” balasnya.

Aku mengernyitkan dahi. Ia tersenyum lagi.

Seorang pelayan datang, menyodorkan menu. Aku memilih coklat panas, sama seperti pesanannya. Menyenangkan untuk dinikmati saat hujan.

Si pelayan menuliskan pesananku dan mengangguk lalu dengan sopan meminta kembali menunya dan pergi. Perempuan di hadapanku ini sudah memandang keluar jendela lagi, menikmati hujan.

“Lez, aku di sini. Mengapa kau memilih memandangi hujan?” gerutuku.

Yang dipanggil menoleh lagi. Tersenyum lagi.

Ia dengan anggun mengangkat cangkirnya dan mendekatkan pada bibirnya. Lalu menyeruput pelan, menunduk, meletakkan lagi cangkirnya di meja.

“Indah itu apa, Ras?” tanyanya.

Aku mengernyitkan dahi.

“Sejak kapan aku bertanya dan kau membalasnya dengan pertanyaan pula?” balasku.

Ia memamerkan senyum tenang itu lagi. Luar biasa. Valezza yang kukenal sangat bawel bisa santai dan setenang ini. Padahal ia tak pernah betah berdiam diri, baiklah.. kecuali kalau dia sedang menulis.

“Jawab saja, Ras,” paksanya.

Aku mengembuskan napas. Meski tenang, rupanya dia sama keras kepalanya seperti biasa. Tak ingin dibantah.

“Indah itu.. mungkin saat kau menikmati senja dengan secangkir kopi dan menemukan orang yang kau cinta sedang menyandarkan kepalanya di bahu kiri,” jawabku.

Ia memandangku. Terpana.

“Lalu.. membahagiakan itu apa?” tanyanya lagi.

“Membahagiakan mungkin seperti uhm.. kau merasa dicintai oleh orang yang kau cintai,” jawabku sekenanya.

Ia tertawa, mengangguk, lalu menyeruput coklatnya.

“Kalau aku tanyakan hal yang sama padamu, kau mungkin akan menjawab indah adalah hujan..,” kataku.

Ia berhenti tertawa. Memandang keluar jendela, berpikir.

“Tidak juga,” gumamnya.

“Indah buatku adalah melihat senyum orang-orang,” ia melanjutkan.

Aku mengangguk.

“Lalu bahagia?” tanyaku lagi.

“Bahagia bisa jadi.. saat kau sedang menikmati martabak keju pada gigitan pertama setelah selama 3 hari belakangan kau hanya mampu memikirkannya tanpa memakannya,” jawabnya sambil tertawa.

Aku ikut tertawa.

Tawanya, selain tenang rupanya menghipnotis juga.

“Bahagia juga bagiku adalah diperjuangkan oleh orang yang kuperjuangkan,”ia bergumam sambil memandang keluar jendela. Matanya menerawang, wajahnya begitu sendu.

“Bahagiakah kau?” tanyaku.

Ia tersenyum, lalu menggeleng. Aku mengernyitkan dahi, menatapnya.

 “Aku tak bahagia lantas kau mau apa?” tanyanya sambil terkekeh.

Aku diam.

“Ras,” panggilnya.

“Hm?”

“Bagaimana cara membuat orang yang kau cintai balas mencintaimu?” tanyanya dengan tatapan serius.

Aku tertawa.

“Cinta tak bisa dipaksakan, Valezza. Tapi.. Bisa kokdibiasakan,” jawabku.

“Biasakan bagaimana?” tanyanya penasaran.

Aku menyukai wajahnya yang lucu jika sedang serius begitu.

“Misalnya, selalu berada di dekatnya. Menemaninya. Kau membutuhkannya, dia membutuhkanmu. Nanti lama-lama juga akan jatuh cinta sendiri,” jawabku.

“Lama-lamamu itu berapa lama?” cecarnya.

Aku tertawa lagi.

“Entahlah. Mungkin seminggu, sebulan atau setengah tahun. Tergantung seberapa peka orang yang ingin kau buat mencintaimu itu,” ucapku.

Ia mengangguk, lalu menyeruput coklatnya.

Hujan di luar sudah hampir reda.

“Ras.” panggilnya lagi.

“Apa, bawel?” balasku.

“Aku mencintaimu.”

Aku menatapnya. Terkejut.

Ia tertawa.

“Apa?” tanyanya.

Aku memicingkan mata. Menimbang-nimbang ia sedang bermain-main atau serius.

“Aku serius,” ucapnya seperti menjawab pikiranku.

“Tapi kau akan tetap memilih Erina, kan?” tanyanya.

Dadaku berdesir.

Ia tertawa lagi.

“Erina yang telah menjadi kekasihmu selama 2 tahun itu, yang mengkhianatimu sebanyak ia datang kembali ke pelukanmu itu. Kau akan tetap memilih dia, kan?” tanyanya sambil memainkan cangkirnya.

“Antara aku dan dia, jelas aku menang telak memberimu bahagia. Tapi kau tetap memilih dia, kan?” tanyanya lagi tanpa berniat mendapat jawaban dariku.

“Kau bilang, lama-lamamu itu mungkin seminggu, sebulan atau setengah tahun. Tergantung seberapa peka orang yang ingin ku buat mencintaiku. Berarti kau manusia paling tidak peka,” ucapnya.

“Bagaimana rasanya kau berada di depanku tapi aku justru memandang hujan, Ras?” tanyanya.

Ia menatapku sendu, lalu menggeleng.

“Ah.. Aku tahu betul bagaimana rasanya,” jawabnya sendiri sambil terkekeh.

“Aku tak mengatakan hal ini padamu karena ingin terus melihat senyummu meski bukan aku sebagai alasannya. Mengapa? karena bagiku itu indah,” ujarnya.

Ia kemudian mencondongkan badannya dan mendekatkan wajahnya ke arahku.

“Valezza Mai..” bisiknya sambil menepuk dada.

“..mencintai Farras Dirgantara selama 5 tahun dan kau tak pernah sekalipun menoleh untuk mencintaiku. Maka aku bilang, tentangku dan alasan mengapa aku menyukai hujan, itu bukan karena kau tak mengerti, tapi karena kau… tak tertarik untuk mengerti. Sama seperti kau tak tertarik untuk memandangku sebagai orang yang mencintaimu dan kau cintai”.

Ia tersenyum lagi lalu kembali duduk di sofanya.

“Kau tahu mengapa aku menyukai hujan?” tanyanya sambil memandang keluar jendela. Hujan kali ini benar-benar telah reda.

“Karena saat hujan, itu pertama kali aku melihatmu. Aku mengenalmu. Di halte bus sekolah, lalu menawarkan payung untukmu. Kau ingat?” ucapnya.

Ia lalu menunduk. Menghela napas, kemudian menatapku dengan mata hazelnya itu.

“Kau bertanya, sejak kapan aku membalas pertanyaanmu dengan pertanyaan pula? Kau mau tahu jawabannya? Sejak aku tahu kau mencintai Erina. Sejak dulu sekali, Ras. Sebab jika aku membalas pertanyaanmu dengan cinta apa kau akan menerimanya sebagai sebuah jawaban?” tanyanya.

Ia menatapku tajam. Aku hanya diam. Terhenyak. Terlalu terkejut untuk sekadar mengucap sepatah kata.

Sungguh aku tak pernah melihat Valezza semarah ini. Bibir delimanya bergetar, namun ia begitu tenang. Seperti laut yang tak bergejolak permukannya namun terjadi badai di dalamnya.

Ia lalu menyandarkan punggungnya di sofa. Menunduk. Tertawa ringan, lalu menggeleng.

Ia mengemasi barang-barangnya dan menggantungkan tasnya di bahu kiri lalu menatapku lagi.

“Kau tahu aku lebih dari mampu untuk mencintaimu, tapi kau tetap akan memilih dia, kan?” tanyanya lagi sambil tersenyum lalu pergi tanpa mengucap permisi.

Pintu café berdebam tertutup. Seorang pelayan datang membawakan coklat panas pesananku, tapi hujan sudah reda.

Aku seruput coklatku, getir.

Aku memandang keluar jendela, menghela napas.

Tetap memilih dia atau kukejar dia?

Jumat, 12 Juni 2015

Bukan Puisi Apalagi Sajak

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga..
Atau, seperti pungguk yang merindukan bulan..
Aku memang cuma setitik nila, meskipun cuma setitik aku tetap nila, nila perusak sebelanga susu yang kau punya..
Aku memang tak lebih dari pungguk, mendamba bulan tanpa berkaca seberapa hina aku sebenarnya..

Bahkan airmata mungkin enggan tertetes dari ujung mata kali ini, entah karena terlalu lelah atau Tuhan memberi harga lebih tinggi atas airmataku dibanding kamu..
Laki-laki pemilik mata teduh,
Laki-laki pemilik senyum aduh,
Laki-laki pemilik peluk hangat,
Laki-laki penyelamat..
Hingga aku seringkali berlebihan menjulukimu jagoan. Tak ada yang salah. Kamu memang jagoan, tapi bukan jagoanku.

Lelahku terjawab.
Penantianku terjawab.
Rinduku terjawab.
Khawatirku terjawab.
Semua pertanyaanku terjawab.
Terjawab dengan jawaban luarbiasa. Jawaban yang sangat bertolak belakang dengan harapku..

Tidak, aku tidak menyalahkanmu atas kita..
Aku yang terlalu mendamba..
Terlalu lena dengan budimu yang memang mengagumkan.. Padahal jelasnya, ada perempuan istimewa pemilik ulung senja yang rona, kamu.
Aku bisa apa setelahnya?
Terduduk memeluk lutut menundukkan kepala..
Enggan rasanya membawa muka ketika kemana-mana. Aku malu.
Malu pada diri sendiri atas rasa yang petaka.
Entah berapa hati yang luka setelah ini.

"Bu, barangkali aku memang belum sempat mencium punggung tanganmu memperkenalkan diri. Aku belum sempat menyebutkan namaku dan silsilah keluargaku. Aku belum sempat menceritakan bagaimana aku memeras keringat sebagai kuli untuk mengejar cita-citaku. Aku belum sempat merendahkan diri siapa aku dibanding perempuan pilihanmu. Tapi aku percaya, semua ibu didunia menginginkan yang terbaik untuk mendampingi putra kesayangannya. Maaf aku pernah tak tau diri bermimpi untuk menjadi perempuan beruntung itu. Maaf aku merusak semuanya. Maaf."

"Untukmu perempuan beruntung, entah harus dengan apa aku berupaya menghapus kesalahanku. Tapi sungguh, aku sama sekali tak menginginkan hati sesamaku terluka sebegininya. Ribuan maaf mungkin akan sia-sia. Tolong bahagiakan dia, sama besar seperti usahanya membahagiakanmu. Ceritakan kepada keturunanmu, kamu beruntung memenangkan hati laki-laki seistimewa ayahnya."

"Untukmu, -laki-laki yang sering memanggilku manja dengan sebutan tante- Terimakasih sudah sempat singgah. Semoga langkahmu tak pernah salah lagi. Maaf sudah masuk kekehidupanmu, tak tau diri mencari celah dihatimu yang lapang namun penuh dengan kebahagiaan."

Aku berusaha untuk tidak sayang kamu lagi.
Tangerang, 13 Juni 2015.

Kamis, 23 April 2015

Jendela yang Sama

Andai dapat kutumpahkan kalutku malam ini didadamu, meski kutau kau lebih dulu terlelap, entah bermimpi tentang apa, tentang riuh kicauan burung-burung kesayanganmu, atau duduk wibawa memetik citamu, atau bahkan suka cita kembali ke bidadari kesayanganmu..
Sungguh, kalutku semalaman ini benar-benar melelahkan. Sendu rindu terbaur bersama haru biru karena cemburu..
Aku terisak oleh hal yang sama sekali bukan hakku.. Ingin rasanya menyalahkan waktu.. Mengapa aku tak lebih dulu mengenalmu.. Laki-laki yang telah mampu meyakinkan langkahku untuk dapat berpijak setara dengan tumbuhnya bunga keabadian.. Laki-laki yang mendekap hangat kala gigil menelusup persendian.. Laki-laki yang mengulurkan tangan, mengentaskan tubuh dari kelamnya masalalu..
Seringkali pertanyaan sama muncul dari mulut-mulut yang berbeda.. "Sebenarnya kalian itu apa?" Pertanyaan yang paling menyebalkan, kalut rasanya kepala, dan aku bisa apa? Tersenyum pahit menggeleng pelan "Entahlah"..
Beberapa waktu, jika gemasku benar-benar ada dititik ubun-ubun, kubaca satu-persatu tulisan jemarimu.. Tak jarang kutemukan betapa kamu dengan tanpa segan mengungkapkan rasa kepada wanitamu.. Ah seandainya itu aku, seandainya namaku yang kau tulis, seandainya, seandainya, seandainya..
Lelah terkadang, menikmati nyaman rengkuh tanpa tau apa makna dibalik lenganmu..
Tapi sungguh, hati ini lebih tak rela melepaskan genggam tanganmu..
Aku sering membayangkan, kita menikmati mentari pagi dari jendela yang sama, seperti beberapa minggu silam..

Maaf mas, rewelku sering merepotkanmu..
Aku sayang kamu.
Tangerang, 23 April 2015

Jumat, 10 April 2015

Sore, di Terminal Giwangan

Aku menghela napas. Menjejakkan kaki turun dari bus antar provinsi, memasuki Terminal. Aku masih ingat betul, bagaimana khawatirmu karena semalaman tak kuberi kabar, hingga membuatmu menunggu hampir 6 jam lamanya ditempat ini. Lalu tanpa lagi memiliki rasa malu, kukecup punggung tanganmu. Dadaku berdebar cepat saat itu. Ah, akhirnya aku tiba dikotamu. Seperti sepasang perindu yang dimanjakan perjumpaan, aku benar-benar kalap menutupi kegembiraan.
Sore ini, tepat empat hari setelah momen itu, kita kembali duduk berdampingan di Terminal yang sama. Dengan kepala yang disesaki alasan-alasan pembenaran agar tidak menyegerakan pulang.
Menyebalkan sekali. Waktu berhenti saat menanti. Lantas berlari kencang saat sua menghampiri.
Empat hari menjadi sedemikian cepat bagi kita yang menuntaskan rindu. Ingin rasanya kubunuh waktu dari perputaran jam, agar bisa membingkai kenangan dengan sebaik-baiknya ingatan. Padahal untuk bisa sampai kekotamu, butuh waktu yang cukup lama untuk menentukan jadwal keberangkatan.
"Sebentar lagi, Dek" ucapmu seraya memperhatikan arloji yang nyaris tak pernah lepas dari pergelangan tangan kirimu. Aku hanya diam tak menanggapi. Kamu mengulang ucapan dan tindakan yang sama hampir dua menit sekali. Aku meletakkan makanan. Laparku tiba-tiba hilang. Kuteguk segelas minuman kesukaanku, bukan lemon tea yang kurasa, malah seperti meminum segelas kopi tanpa gula. Kau melihatku lekat. Entah apa makna tatapanmu itu. Mungkin kau mulai menangkap gurat kesedihan dipelupuk mataku. Dan aku tetap memilih diam menikmati sisa-sisa waktuku didekatmu.
Mas, kalaulah kau tau betapa aku ingin memelukmu erat saat itu. Menumpahkan semua rindu yang masih belum berkurang sama sekali. Menenangkan setiap gelisah resah yang berkecamuk didalam dadaku. Menciptakan lagi satu simpul senyum dengan keyakinan bahwa kita pasti bertemu kembali. Menuntaskan keinginan untuk mengutuhkan perasaan. Tapi waktu tak pernah setia untuk menanti. Menyuruhku berbenah untuk selalu tabah. Menampar kenyataan bahwa dalam setiap kedatangan selalu ada kepulangan.
Maka saat itu, aku benar-benar gagal membendung kesedihan. Dadaku sesak. Tak lama berselang, air mata menitik pelan dari ujung mataku. Kau tetap mencoba tersenyum. Satu lengkung yang selalu membuat aku gagal untuk tidak jatuh cinta. Kubenamkan kepala ditempat yang paling ampuh menenangkan gusar, didadamu -menafikan tatapan sinis orang-orang disekeliling kita-.
Aku selalu menyukai saat tidur dalam dekapmu, maka kadang aku selalu berharap dingin selalu datang mengusik, agar pelukmu tak pernah lepas dari tubuh ini.
Semesta dan rindu pasti bekerja sama untuk menunjukkan jalan padamu agar datang kepadaku atau aku kepadamu (lagi).
Demi setiap depa per depa jarak yang membuat kita jauh, percayalah kamu adalah sepasang lengan yang mendekapku saat aku hampir jatuh.
Aku harus belajar memendam rindu. Menimbun setiap resah yang mengikis mimpi. Hingga kita sama-sama membenci kesepian.
Teruntuk laki-laki yang membuatku betah merebah lelah didadanya, ajari aku kesetiaan senja untuk kembali datang, meski malam kerap menyuruhnya pulang.
Aku sayang kamu.
Jogjakarta - Tangerang
6 April 2015

Jumat, 20 Februari 2015

Masih Ada Lagi-kah?

Ketika kamu terbangun dari lelap dan mulai berkemas diri, mungkin tak akan ada lagi yang diam-diam menempelkan telinga ke sekat pembatas ruang hanya untuk mendengar sayup suara nyanyian merdu dari bibir manismu..
Ketika suara kendaraan yang kau sebut "istri" itu mulai terdengar, mungkin tak akan ada lagi yang diam-diam menyibak tirai jendela hanya untuk menikmati tatapmu yang teduh..
Ketika depa per depa jarak mulai kau ulur dari hulu hati ke hilir masa depanmu, mungkin tak akan ada lagi yang diam-diam ikut melangkahkan kaki, menghirup sisa-sisa aroma tubuhmu yang menyejukkan..
Ketika kamu tiba ditempat yang sering kau ucap "tambang emas"mu, mungkin tak akan ada lagi pesan yang sama setiap harinya dan sama sekali tak penting di ponsel genggammu, "semangat, Mas. Hati-hati ya kerjanya"..
Ketika waktu istirahatmu tiba, mungkin tak akan ada lagi yang kembali mengingatkan hal yang sama sekali tak pernah kau lupa sedikitpun "jangan lupa makan"..
Ketika film aksi favoritmu diputar dilayar besar itu, mungkin tak akan ada lagi yang pura-pura kedinginan hanya untuk merasakan rengkuh tubuhmu yang hangat..
Ketika waktumu tersisa sehari saja, mungkin tak akan ada lagi yang merengek diajak ke Jembatan Cisadane hanya untuk melihat pesawat terbang yang lalu lalang diatas kepala, dan masyarakat sekitar yang sibuk memancing ikan..
Ketika malam tiba, mungkin tak akan ada lagi yang merepotkan pundakmu hanya untuk menenangkan gundahku karena seharian sibuk mendambamu..
Jadi, bagaimana ?
Masih adakah hal lain yang merepotkanmu ?
Sebutkan, hatiku masih terlalu lapang hanya untuk mendengarmu mengeluhkan betapa manjanya aku.

Rabu, 10 September 2014

Bisa ?

"Bersikaplah seperti dulu ,Mas"
Ingin sekali lisan mengucap satu kalimat sepele itu
Tapi keberanianku tertelan dingin tatapmu
Padahal, ingatanku masih terpatri rapi mengenai apa yang menyemangati tiap detak dan detik masaku disini, dikota yang lebih dulu kau tinggali
Manakala gigil memaksamu menelusupkan jari-jarimu diselah jemariku
Sungguh, degupku kau buat tak beraturan samasekali kala itu
Kamu ingat ? Kenapa aku lebih memilih menolak tawaranmu untuk mengenakan jaket yg kau bawa ?
Karena aku rasa , genggammu lebih menghangatkan dibanding jaket berbahan apapun
Terlebih manakala pundakmu memberikan ruang untuk bersandar , itu adalah tempat paling nyaman
Pun aroma tubuhmu , itu lebih dari menenangkan
Kamu tau ? Aku seringkali mencuri waktu untuk keluar kamar setelah mendengar suara motormu menanggalkan kamar kontrakan, hanya untuk sekedar menghirup aroma yang tersisa
Hehehe.. sedikit autis memang
Tapi ini hanya salah satu caraku untuk mengikis sedikit per sedikit rindu yang makin meraja
Aku memang selalu kalap melawan rindu yang meluap
Menantang waktu yang menghalangi temu
Mengalahkan angkuh prinsipmu mengenai perempuan itu
Tapi sungguh , aku tak sedikitpun berani meletakkan apalagi menuntut harap padamu
Hanya tatap lalu dekap , sekedar menaklukan rindu yang tak pernah tau malu dan tak tau waktu
Itu sudah lebih dari lengkap
Maaf , sudah mendamba sebegininya
Semoga aku bisa menjadi takdir yang dengan percaya diri mampu mengalahkan prinsip teguhmu ... :)

 
Cenelnel.Com Blogger Template by Ipietoon Blogger Template