Rabu, 08 Juli 2015

Hati Bima Sakti

Melewati Andromeda yang kutahu. Saat kau putuskan untuk terbang lebih jauh. Meninggalkan Ceres-mu yang meratap. Dan melupakan jalur intan yang pernah sangat kau sukai di cincin Saturnus-ku.

Adakah kulihat awan kumulus menangisi kepergianmu?

Tampaknya, tidak.

Sejak jejak langkahmu hilang bersama titik gugus bintang terakhir yang tenggelam di timur samudra, kenangan tentang dirimu, tentang mimpi penjelajahan galaksi misterius-mu, dan seluruh rangkaian puisi yang kau ciptakan saat malam-malam kau berkunjung ke bulan, sudah lenyap ditelan lubang hitam di utara Biduk, tempat dulunya bintang kesayanganku mempertahankan sisa-sisa kehidupannya.

Bintang-ku telah mati. Awan teduhku tak lagi memedulikan apakah bintang pusat tata surya kita masih bertahta atau tidak. Dia mengembara sesukanya, melawan kehendak putaran ion positif di atas pengaruh gaya gravitasi bumi. Dia berduka dengan caranya, dan tak sempat memerhatikanku. Aku sendiri. benar-benar sendiri.

Apalagi yang bisa kulakukan selain makan es krim di pluto pada siang hari, dan memetik bunga musim panas di merkuri pada sore hari?

Tidak ada.

Aku hanya bersenang-senang sepanjang Vega masih mengamatiku – yang memang sudah menjadi tugasnya. Sebab lukaku adalah darah yang membanjiri Neptunus. Tak ada yang menginginkan aku mengotori warna murni milik Triton itu.

Namun, saat tak ada lagi yang mengawasiku, semua tawa, bahagia, dan ceria pun sirna tanpa bekas. Aku membebaskan jiwaku. Melepaskan pedihku. Dan, aku pun menangis, di balik kawah yang tersembunyi di Demos.

Bima sakti, bima sakti, bentangkan sayapmu. Beri aku dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Izinkan aku turut mengembara bersama Halley. Agar aku tahu berapa juta tahun cahaya yang kubutuhkan untuk sampai ke tempatnya.

Aku merindukannya. Ketika melihat ruang kosong yang dulu ditempatinya – diantara Mars dan Yupiter – aku tak bisa mengelak dari rasa itu. Tak mampu aku merelakan kepergiannya yang tiba-tiba. Seharusnya, dia di sana.
Semestinya, dia masih bersamaku, menyaksikan Venus menebar cinta di galaksimu.

Kau juga, putri asteroid! Kenapa kau tak bisa bertahan? Haruskah aku menyalahkan dua bintang yang tak sengaja berbenturan di atasmu, yang mengguncangkanmu waktu itu?
Padahal, kutahu kau juga membujuk sebuah meteor kecil untuk mengejar kupu-kupu Phoebe. Saat ia melewatimu, kau pun terlontar entah kemana..?

Kini, aku… merasa dingin dan sepi, duduk sendiri di atas puncak gunung di Uranus. Aku menyadari kenapa galaksi ini terasa begitu hampa dan tak bernyawa. Adalah karena… kaulah bima sakti, yang memberi warna kehidupan di dalamnya. Karena kau pergi, galaksi ini jadi muram. Seandainya kau kembali, pasti semesta.. akan cerah lagi.

Sebuah surat cinta dari M. Kamelia dalam Kepada Cinta halaman 81.

Senin, 06 Juli 2015

Tetap Dia Kah?

Aku membuka pintu café dan masuk ke dalamnya sambil mengibaskan tangan yang basah karena hujan. Setelah yakin aku tak mengotori lantai café, aku melebarkan pandangan dan dengan mudah menemukannya. Duduk di kursi dekat jendela, memegang cangkir hitam –yang aku tebak isinya adalah coklat panas- sambil memandangi hujan. Aku menghampirinya.

“Indah?” tanyaku.

Ia memalingkan pandangannya dari jendela, menoleh ke arahku lalu tersenyum. Ia meletakkan gelasnya di meja dan mengangguk.

“Tentu saja,” jawabnya masih sambil mengenakan senyum itu di bibirnya yang delima.

“Baru datang seharusnya kau menyapaku dulu, bukannya langsung bertanya. Nanti orang kira namaku Indah,” rutuknya.

Aku tertawa mendengar protesnya lalu duduk di sofa, berhadapan dengannya.

“Lama mengenalmu, aku masih tak mengerti mengapa kau begitu menyukai hujan,” kataku.

Ia tertawa. Tawanya renyah. Mirip suara gemerisik dedaunan kering di taman tempat biasa aku dan dia duduk saat aku harus menemaninya menulis. Menenangkan.

Katanya, taman yang sepi justru lebih hidup dari warna pelangi. Ia mampu menulis apa saja, asal aku tak mengganggunya dengan banyak pertanyaan. Maka biasanya, jika ia mengajakku ke taman, aku hanya diam saja. Memperhatikannya menulis, atau aku akan sibuk dengan ponselku sendiri. Entah mendengarkan lagu, memotretnya, atau sekadar eksis di dunia maya.

“Kau bukan tak mengerti, mungkin kau tak tertarik untuk mengerti,” balasnya.

Aku mengernyitkan dahi. Ia tersenyum lagi.

Seorang pelayan datang, menyodorkan menu. Aku memilih coklat panas, sama seperti pesanannya. Menyenangkan untuk dinikmati saat hujan.

Si pelayan menuliskan pesananku dan mengangguk lalu dengan sopan meminta kembali menunya dan pergi. Perempuan di hadapanku ini sudah memandang keluar jendela lagi, menikmati hujan.

“Lez, aku di sini. Mengapa kau memilih memandangi hujan?” gerutuku.

Yang dipanggil menoleh lagi. Tersenyum lagi.

Ia dengan anggun mengangkat cangkirnya dan mendekatkan pada bibirnya. Lalu menyeruput pelan, menunduk, meletakkan lagi cangkirnya di meja.

“Indah itu apa, Ras?” tanyanya.

Aku mengernyitkan dahi.

“Sejak kapan aku bertanya dan kau membalasnya dengan pertanyaan pula?” balasku.

Ia memamerkan senyum tenang itu lagi. Luar biasa. Valezza yang kukenal sangat bawel bisa santai dan setenang ini. Padahal ia tak pernah betah berdiam diri, baiklah.. kecuali kalau dia sedang menulis.

“Jawab saja, Ras,” paksanya.

Aku mengembuskan napas. Meski tenang, rupanya dia sama keras kepalanya seperti biasa. Tak ingin dibantah.

“Indah itu.. mungkin saat kau menikmati senja dengan secangkir kopi dan menemukan orang yang kau cinta sedang menyandarkan kepalanya di bahu kiri,” jawabku.

Ia memandangku. Terpana.

“Lalu.. membahagiakan itu apa?” tanyanya lagi.

“Membahagiakan mungkin seperti uhm.. kau merasa dicintai oleh orang yang kau cintai,” jawabku sekenanya.

Ia tertawa, mengangguk, lalu menyeruput coklatnya.

“Kalau aku tanyakan hal yang sama padamu, kau mungkin akan menjawab indah adalah hujan..,” kataku.

Ia berhenti tertawa. Memandang keluar jendela, berpikir.

“Tidak juga,” gumamnya.

“Indah buatku adalah melihat senyum orang-orang,” ia melanjutkan.

Aku mengangguk.

“Lalu bahagia?” tanyaku lagi.

“Bahagia bisa jadi.. saat kau sedang menikmati martabak keju pada gigitan pertama setelah selama 3 hari belakangan kau hanya mampu memikirkannya tanpa memakannya,” jawabnya sambil tertawa.

Aku ikut tertawa.

Tawanya, selain tenang rupanya menghipnotis juga.

“Bahagia juga bagiku adalah diperjuangkan oleh orang yang kuperjuangkan,”ia bergumam sambil memandang keluar jendela. Matanya menerawang, wajahnya begitu sendu.

“Bahagiakah kau?” tanyaku.

Ia tersenyum, lalu menggeleng. Aku mengernyitkan dahi, menatapnya.

 “Aku tak bahagia lantas kau mau apa?” tanyanya sambil terkekeh.

Aku diam.

“Ras,” panggilnya.

“Hm?”

“Bagaimana cara membuat orang yang kau cintai balas mencintaimu?” tanyanya dengan tatapan serius.

Aku tertawa.

“Cinta tak bisa dipaksakan, Valezza. Tapi.. Bisa kokdibiasakan,” jawabku.

“Biasakan bagaimana?” tanyanya penasaran.

Aku menyukai wajahnya yang lucu jika sedang serius begitu.

“Misalnya, selalu berada di dekatnya. Menemaninya. Kau membutuhkannya, dia membutuhkanmu. Nanti lama-lama juga akan jatuh cinta sendiri,” jawabku.

“Lama-lamamu itu berapa lama?” cecarnya.

Aku tertawa lagi.

“Entahlah. Mungkin seminggu, sebulan atau setengah tahun. Tergantung seberapa peka orang yang ingin kau buat mencintaimu itu,” ucapku.

Ia mengangguk, lalu menyeruput coklatnya.

Hujan di luar sudah hampir reda.

“Ras.” panggilnya lagi.

“Apa, bawel?” balasku.

“Aku mencintaimu.”

Aku menatapnya. Terkejut.

Ia tertawa.

“Apa?” tanyanya.

Aku memicingkan mata. Menimbang-nimbang ia sedang bermain-main atau serius.

“Aku serius,” ucapnya seperti menjawab pikiranku.

“Tapi kau akan tetap memilih Erina, kan?” tanyanya.

Dadaku berdesir.

Ia tertawa lagi.

“Erina yang telah menjadi kekasihmu selama 2 tahun itu, yang mengkhianatimu sebanyak ia datang kembali ke pelukanmu itu. Kau akan tetap memilih dia, kan?” tanyanya sambil memainkan cangkirnya.

“Antara aku dan dia, jelas aku menang telak memberimu bahagia. Tapi kau tetap memilih dia, kan?” tanyanya lagi tanpa berniat mendapat jawaban dariku.

“Kau bilang, lama-lamamu itu mungkin seminggu, sebulan atau setengah tahun. Tergantung seberapa peka orang yang ingin ku buat mencintaiku. Berarti kau manusia paling tidak peka,” ucapnya.

“Bagaimana rasanya kau berada di depanku tapi aku justru memandang hujan, Ras?” tanyanya.

Ia menatapku sendu, lalu menggeleng.

“Ah.. Aku tahu betul bagaimana rasanya,” jawabnya sendiri sambil terkekeh.

“Aku tak mengatakan hal ini padamu karena ingin terus melihat senyummu meski bukan aku sebagai alasannya. Mengapa? karena bagiku itu indah,” ujarnya.

Ia kemudian mencondongkan badannya dan mendekatkan wajahnya ke arahku.

“Valezza Mai..” bisiknya sambil menepuk dada.

“..mencintai Farras Dirgantara selama 5 tahun dan kau tak pernah sekalipun menoleh untuk mencintaiku. Maka aku bilang, tentangku dan alasan mengapa aku menyukai hujan, itu bukan karena kau tak mengerti, tapi karena kau… tak tertarik untuk mengerti. Sama seperti kau tak tertarik untuk memandangku sebagai orang yang mencintaimu dan kau cintai”.

Ia tersenyum lagi lalu kembali duduk di sofanya.

“Kau tahu mengapa aku menyukai hujan?” tanyanya sambil memandang keluar jendela. Hujan kali ini benar-benar telah reda.

“Karena saat hujan, itu pertama kali aku melihatmu. Aku mengenalmu. Di halte bus sekolah, lalu menawarkan payung untukmu. Kau ingat?” ucapnya.

Ia lalu menunduk. Menghela napas, kemudian menatapku dengan mata hazelnya itu.

“Kau bertanya, sejak kapan aku membalas pertanyaanmu dengan pertanyaan pula? Kau mau tahu jawabannya? Sejak aku tahu kau mencintai Erina. Sejak dulu sekali, Ras. Sebab jika aku membalas pertanyaanmu dengan cinta apa kau akan menerimanya sebagai sebuah jawaban?” tanyanya.

Ia menatapku tajam. Aku hanya diam. Terhenyak. Terlalu terkejut untuk sekadar mengucap sepatah kata.

Sungguh aku tak pernah melihat Valezza semarah ini. Bibir delimanya bergetar, namun ia begitu tenang. Seperti laut yang tak bergejolak permukannya namun terjadi badai di dalamnya.

Ia lalu menyandarkan punggungnya di sofa. Menunduk. Tertawa ringan, lalu menggeleng.

Ia mengemasi barang-barangnya dan menggantungkan tasnya di bahu kiri lalu menatapku lagi.

“Kau tahu aku lebih dari mampu untuk mencintaimu, tapi kau tetap akan memilih dia, kan?” tanyanya lagi sambil tersenyum lalu pergi tanpa mengucap permisi.

Pintu café berdebam tertutup. Seorang pelayan datang membawakan coklat panas pesananku, tapi hujan sudah reda.

Aku seruput coklatku, getir.

Aku memandang keluar jendela, menghela napas.

Tetap memilih dia atau kukejar dia?

 
Cenelnel.Com Blogger Template by Ipietoon Blogger Template