"Bersikaplah seperti dulu ,Mas"
Ingin sekali lisan mengucap satu kalimat sepele itu
Tapi keberanianku tertelan dingin tatapmu
Padahal, ingatanku masih terpatri rapi mengenai apa yang menyemangati tiap detak dan detik masaku disini, dikota yang lebih dulu kau tinggali
Manakala gigil memaksamu menelusupkan jari-jarimu diselah jemariku
Sungguh, degupku kau buat tak beraturan samasekali kala itu
Kamu ingat ? Kenapa aku lebih memilih menolak tawaranmu untuk mengenakan jaket yg kau bawa ?
Karena aku rasa , genggammu lebih menghangatkan dibanding jaket berbahan apapun
Terlebih manakala pundakmu memberikan ruang untuk bersandar , itu adalah tempat paling nyaman
Pun aroma tubuhmu , itu lebih dari menenangkan
Kamu tau ? Aku seringkali mencuri waktu untuk keluar kamar setelah mendengar suara motormu menanggalkan kamar kontrakan, hanya untuk sekedar menghirup aroma yang tersisa
Hehehe.. sedikit autis memang
Tapi ini hanya salah satu caraku untuk mengikis sedikit per sedikit rindu yang makin meraja
Aku memang selalu kalap melawan rindu yang meluap
Menantang waktu yang menghalangi temu
Mengalahkan angkuh prinsipmu mengenai perempuan itu
Tapi sungguh , aku tak sedikitpun berani meletakkan apalagi menuntut harap padamu
Hanya tatap lalu dekap , sekedar menaklukan rindu yang tak pernah tau malu dan tak tau waktu
Itu sudah lebih dari lengkap
Maaf , sudah mendamba sebegininya
Semoga aku bisa menjadi takdir yang dengan percaya diri mampu mengalahkan prinsip teguhmu ... :)
Rabu, 10 September 2014
Bisa ?
Lokasi:
South Cikarang, South Cikarang
Selasa, 18 Februari 2014
Karena Aku Rindu Kamu
Aku menulis diantara serakan kertas dan gaduhnya kepala
Entah ini keputusan yang benar atau salah
Intinya , ini adalah satu dari sejuta cara dungu yang selalu ku pilih untuk sekedar menumpahkan resah diantara jaga
Gaduh ini, Sayangku, adalah karena aku rindu kamu
Resah ini, Sayangku, adalah karena aku rindu kamu
Seringkali begitu , Selalu ? Iya, bisa jadi demikian
Aku mengrenyitkan dahi tanda bertanya pada diri sendiri
Sudah berapa kali kata rindu tersenandung dari lisanku yang sering kau anggap tak berarti
Bukankah baru senja kemarin dia mengirimkan pesan singkat berisi "Aku didepan rumahmu" ?
Kemudian aku menyambutnya dengan gerutu tanda merajuk, namun kalah telak dengan satu lengkung senyum saja dari bibirnya
Tak ada yang sama didunia ini, bahkan antara diri kita sendiri
Setiap pagi kita dihidupkan kembali pada diri yang berbeda, pada jiwa yang tak pernah sama dari kemarin
Mungkin itu alasan kenapa aku harus menggerutu terlebih dahulu untuk dapat mendatangkan hangat pelukmu kembali
Dan mungkin itu sebabnya, kamu lebih memilih pergi bersamanya ketika aku sedang mengagungkan rasa, dulu..
Entah ini keputusan yang benar atau salah
Intinya , ini adalah satu dari sejuta cara dungu yang selalu ku pilih untuk sekedar menumpahkan resah diantara jaga
Gaduh ini, Sayangku, adalah karena aku rindu kamu
Resah ini, Sayangku, adalah karena aku rindu kamu
Seringkali begitu , Selalu ? Iya, bisa jadi demikian
Aku mengrenyitkan dahi tanda bertanya pada diri sendiri
Sudah berapa kali kata rindu tersenandung dari lisanku yang sering kau anggap tak berarti
Bukankah baru senja kemarin dia mengirimkan pesan singkat berisi "Aku didepan rumahmu" ?
Kemudian aku menyambutnya dengan gerutu tanda merajuk, namun kalah telak dengan satu lengkung senyum saja dari bibirnya
Tak ada yang sama didunia ini, bahkan antara diri kita sendiri
Setiap pagi kita dihidupkan kembali pada diri yang berbeda, pada jiwa yang tak pernah sama dari kemarin
Mungkin itu alasan kenapa aku harus menggerutu terlebih dahulu untuk dapat mendatangkan hangat pelukmu kembali
Dan mungkin itu sebabnya, kamu lebih memilih pergi bersamanya ketika aku sedang mengagungkan rasa, dulu..
Langganan:
Komentar (Atom)